24 June 2016

Berevolusi.



Menjadi blogger yang konsisten ternyata tak mudah, di postingan terakhir saya berkata akan rajin lagi ngeblog (menulis), kemudian bulan berlalu saya tak jua menulis di blog ini. Rasanya saya enggan menulis lagi di sini. 

Akhirnya kesempatan menulis itu datang, tapiiiii......

Tapi, saya berpikiran lain. saya sudahi saja menulis di sini. saya akan pindah rumah (baca; blog). Jadi ini adalah postingan terakhir, anggap saja postingan salam perpisahan dari saya yang sudah ngeblog sejak 2009, di sini

Saya akan mempunyai rumah baru di kacamatabudi.com (koming sun). Pindah media (ngeblog) ini selain masa aktif domain ini akan segera berakhir, saya hanya ingin menyeragamkan id yg setahun ini telah berganti dari budhipedia menjadi kacamatabudi.

Berawal dari menghapus akun facebook, kemudian mengganti akun twitter, instagram, linkedin, behance dan akun media sosial lainnya dari identitas budhipedia menjadi kacamatabudi. Jadi rasanya kurang lengkap jika saya tak memiliki blog dengan nama id yang sama. Bahasa kerennya tuh evolusi gitu. :D

Secara personal saya tak berubah banyak, kebiasaan ngetwit akan tetap sama, tapi sekarang lebih sering posting di instagram, jangan lupa follow tuh. :)
hanya nama saja yang berubah. Saya akan tetap menulis, karena menulis adalah kebutuhan. Kebutuhan saat cerita kehilangan tempatnya untuk berbicara. 

Sampai bertemu di rumah saya yang baru. Ciao. :)

 

17 February 2016

Ngeblog lagi..



Saya kembali ke sini. Menulis lagi, di blog yang sekian lama tidak diisi. Pemalas? Bisa jadi. Katakanlah begitu. Berbulan-bulan blog ini tak terurus, demikian pula dengan blog lainnya yang saya kelola. Terbengkalai, tak diisi, tak di update, dibiarkan begitu saja.

Lalu mengapa kembali ke sini (ngeblog)? Selama sepekan ini saya blogwalking, mengunjungi blog-blog teman-teman. Ternyata mereka masih menulis diblognya, padahal distraksi media sosial begitu besar. Dan ini menjadi sebuah trigger untuk saya, memicu untuk kembali menulis. ngeblog.

Sampai paragraf ketiga ini, saya merasa terintimidasi karena sudah lama dan tak terbiasa (lagi) menulis panjang. Benar rupanya bahwa menulis itu proses kreatif, kalau tak diasah dan dibiasakan akan tumpul, tidak kreatif.

Mau nulis apa lagi ya? *mikir panjang*
Sudahi saja. pointnya mungkin saya akan rajin menulis lagi, insya allah. 

Menulislah dan jangan bunuh diri! -- Theoresia Rumthe  


20 August 2015

Nasionalisme Sehari. Nasionalisme Harian.


Sang Saka Merah Putih ditarik melebar.
Nafas yang tadinya tertahan, terhembus lega.
Sakit perut akibat cemas bendera terpelintir pun hilang.
Teriakan komando menghormati Sang Saka Merah Putih pun terdengar, diikuti lagu Indonesia Raya mengiringi.

Sang Saka perlahan-lahan bergerak ke atas, seolah-olah membumbung bersama segenap rasa nasionalisme di seluruh penjuru negeri.

Di sudut-sudut kota sorak sorai, tawa, keringat mengiringi naiknya para pemanjat pinang, pemakan kerupuk, dan pelomba lain-lain.

Puja-puji nasionalisme berkumandang di segenap media sosial dengan berbagai hashtag dan juga hashflag.

Kita bergembira.
Kita bersorak-sorai
Kita bernyanyi-nyanyi hingga pesta mencapai puncaknya.