20 August 2015

Nasionalisme Sehari. Nasionalisme Harian.


Sang Saka Merah Putih ditarik melebar.
Nafas yang tadinya tertahan, terhembus lega.
Sakit perut akibat cemas bendera terpelintir pun hilang.
Teriakan komando menghormati Sang Saka Merah Putih pun terdengar, diikuti lagu Indonesia Raya mengiringi.

Sang Saka perlahan-lahan bergerak ke atas, seolah-olah membumbung bersama segenap rasa nasionalisme di seluruh penjuru negeri.

Di sudut-sudut kota sorak sorai, tawa, keringat mengiringi naiknya para pemanjat pinang, pemakan kerupuk, dan pelomba lain-lain.

Puja-puji nasionalisme berkumandang di segenap media sosial dengan berbagai hashtag dan juga hashflag.

Kita bergembira.
Kita bersorak-sorai
Kita bernyanyi-nyanyi hingga pesta mencapai puncaknya.

Lalu 18 Agustus, pesta itu usai sudah…

Menyisakan sampah-sampah.
Menyisakan kelelahan.
Menyisakan sedikit euforia…
dan mungkin sedikit nasionalisme.

Nasionalisme yang perlahan-lahan terlupakan.
Ditelan keseharian.
Ditelan kemacetan.
Ditelan target pencapaian.
Ditelan perdebatan.
Entah soal moge atau sepeda.
Entah soal Parade Tauhid atau Islam Nusantara.
Entah soal calon tunggal atau calon perseorangan.
Entah soal dollar atau yuan.
Entah soal Menko atau Wapres.

Bulan ini.
Bulan depan
dan seterusnya, kita menunggu setahun lagi untuk menemukan nasionalisme baru lagi di tujuhbelasan berikutnya.
Nasionalisme sehari.
Nasionalisme tujuhbelasan.

Padahal para pahlawan pendahulu kita tidak berhenti berperang dan berjuang meski proklamasi sudah berkumandang.

Mungkin sudah saatnya kita akhiri nasionalisme tujuhbelasan sehari itu.
Mungkin sudah saatnya kita menjadi nasionalis di keseharian.
Berjuang menjaga hal baik seperti kesehatan, kecerdasan, kemanusiaan.
Memerangi musuh-musuh seperti kemiskinan, kebodohan, kemalasan, keserakahan.
Merdeka dari semua hal yang menghambat kita untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Mungkin sudah saatnya setiap hari kita anggap sebagai tujuhbelasan…

Mari menjalankan #365HariMerdeka...

---

"Kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan Indonesia"

- Hari Merdeka  ~  H. Mutahar (1946)


190815
Ruang Umpel2an Dirs #NRD2RDO.
Setia? Sedia? Seperti Sedia Kala.


artikel asli dari sini http://goo.gl/747iP4

18 May 2015

Q&A: NGOBROL SANTAI DENGAN YEYECYCLING.



Didit dan Sepeda Fixie yang di rentalkannya di yeyecycling.
Disore yang sejuk di area Pantai Talise, ada beberapa sepeda Fixie dengan warna-warni yang cerah berseliweran sepanjang bibir jalan. Didalam mobil yang kami kendarai, dalam hati saya mengajukan satu pertanyaan  "dari mana asal sepeda-sepeda ini berasal?" sungguh pertanyaan yang absurd bukan?  hahaha

Sepulang menghabiskan quality-time bersama istri dan anak kami yang baru dua bulan dengan tingkat kepo level kecamatan saya langsung membuka browser. Dan taraaaa....

Berikut petikan saya dan mas Didit, owner dari yeyecycling. FYI; yeyecycling ini merupakan penyedia jasa (rental) sepeda yang ada di kota Palu, kata Mas Didit, yang masih berstatus mahasiswa di universitas negeri di Palu ini, mereka baru memulai usaha ini sejak tanggal 25 April 2015. tanya-jawab atau semacam interview ini kami lakukan di twitter dengan tagar #selasar.

Langsung saja yah. Halo apa kabar? boleh dikenalin nih tentang kalian (yeyecycling)? :)

halo kak @budhipedia alhamdulillah semangat sekali, oh iya perkenalkan kami penyedia jasa rental sepeda di kota Palu. :D

Udah tau kok sejak kepoin linimasa kalian. :D 
yeyecycling ini dimulai sejak kapan sih?

hahaha, ternyata sudah lumayan di kenal :D kami baru mulai hampir sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 19 April 2015 kak.

saya baru dua mingguan taunya. hahaha 
Apa yang melatar belakangi membuka usaha jasa rental sepeda di kota Palu?

hahaha, telat taunya :p sejujurnya ingin membantu/menambah ekonomi keluarga dan tambah2 uang jajan buat kuliah hehehe...
selain itu sih kegiatan bersepeda di kota Palu juga sudah memasyarakat, tapi belum semua bisa punya sepeda pribadi...
makanya kami ada untuk sediakan jasa rental sepeda ini, hehehe

anak rumahan sih saya nya, jadi telat tau. :D 
Respon dari masyarakat sendiri?

hahaha, kita sama kak :D Alhamdulillah sejauh ini mereka positif dan antusias.

*tosss!* Ok. Kini Soal tarif sewa sepeda dan persyaratan apa ajah utk dapat menyewa sepeda di yeyecyling?

Untuk tarif sewa 25 ribu per 6 jam, persyaratannya gampang titipkan kartu identitas(KTP/SIM) dan nomor HP pelanggan :D

mudah yah? Jaminan dan antisipasi kerusakan sepeda sewaan gimana? Gak takut dibawa kabur? hahaha

mudah, tidak ribet dan langsung gowes kak :D 
untuk jaminan dari kartu identitas pelanggan dan yg datang ke tempat kami membawa kendaraan bisa dititipkan ke kami, itu juga bisa menjadi jaminan kami :D
untuk kerusakan tergantung seberapa parah rusaknya, misal lecet atau bocor tidak masalah, itu sudah resiko hehehe.
Kalo dibawa kabur pasti ada rasa takut, tapi kami percaya kepada pelanggan, orang palu kan jujur kak, hehehe

nice! Sy sempat kepoin iklan kalian di nyewain.com, berapa banyak jumlah sepeda yg kalian miliki saat ini?

waduh kak @budhipedia kepo nih hehehe :P untuk saat ini kita baru punya 10 sepeda, semoga kedepannya bias bertambah lagi kak. :D


lumayan banyak nih. :) Apakah hanya sepeda jenis Fixie atau ada jenis sepeda lain yg disewakan yeyeycling?

saat ini masih sepeda Fixie, dalam waktu dekat mau ditambah jenis Tandem dan MTB, mohon doanya kak semoga terlaksana.

Aamin.. Seperti yg kita tau, sepeda type Fixie ini kan membutuhkan budget yg tak sedikit, bagaimana menurut kalian?

iya betul kak, apalagi digunakan untuk penyewaan, digunakan untuk umum... 
tiap hari kami memeriksa keadaan sepeda sebelum & sesudah digunakan, dan selalu di maintenance, agar nyaman dipake.

agak sedikit gambling juga yah. hahaha Target pasar kalian sebenarnya siapa saja?

anak muda harus berani ambil resiko kak hahaha :D ....
target kita kaulah muda, kakak-kakak hits nan kece di kota Palu, dedek-dedek gemez dan orang-orang yang suka hidup sehat :D

ini baru anak muda. nemaeka! Ngomongin soal sepeda, sebutkan siapa pembalap sepeda yg kalian tau?

waduuh, kalo dari Indonesia Risa Suseanty, dari luar Marco Pantani, Lance Amstrong dan Jan Ullrich (habis googling) :D

sudah saya duga. berterima kasihlah pada Google. Hahaha 
Apakah yeyecycling punya niat bikin kompetesi sepeda Fixie?

thanks mbah, hahaha :D 
wah untuk sekarang belum ada niat kesitu, kita masih fokus di bisnisnya dulu kak...
tapi itu bisa jadi ide yang menarik, siapa tau ada yg bisa di ajak kerjasama :D

Dear sponsor event, udah ada kode nih. xD selain twitter, regram ada rencana buat website utk promo?

mari kode2an dulu kak :D 
rencana bikin website sudah ada, sudah on progress juga nih kak, lagi dibangun sama tim.

wuih.. tjakep! saya suka desain logo kalian. apa tim kalian juga yg buat? share donk.

wah makasih kak, mau di cc-in nih? hahaha :D 
iya tim kami juga, kebetulan kakak saya kuliah jurusan komputer di Bandung

Boleh donk. biar yg lain tau juga. siapa tau ada followers yg mau buat logo. :D

ehm ehm --> @DimasChaidar @rezailmi ada lowongan tuh XD btw mereka lagi sibuk Skripsweet sekarang kak, hahaha

wuih BIO twitternya keren-keren. Salam kenal semua yah. xD

terakhir, menurut kalian bagaimana fasilitas untuk para pecinta sepeda di kota ini? Apa yang masih kurang?

Fasilitas seperti jalur khusus sepeda sepertinya belum ada ya, semoga pemerintah kota Palu membuatnya. supaya pengguna sepeda merasa aman bersepeda di jalan raya...
untungnya komunitas sepeda di Palu juga sudah banyak seperti @PaluFixedGear @PALUFIXED dapat menjadi wadah pecinta sepeda...
dan tiap hari minggu selalu diadakan CFD di anjungan, jadi bisa membantu masyarakat berolahraga khususnya bersepeda.

ternyata ikut ambil bagian juga dalam upaya free culture. kita ke rapid question yah.

hidup sehat itu perlu kak, hehehe :D 
wah udah mau selesai ya? :( 
ok deh.

BMX atau Fixie?

Fixie dong.

Time trial atau Ultramarathon?

Time Trial.

Jan Ullrich atau Lance Armstrong?

an Ullrich, kecewa sama Lance Amstrong :((

Instagram atau Path?

Instagram.

PSSI atau Menpora?

PSSI atau Menpora ? sebenarnya tidak mau milih untuk ini, ndk ada yg beres, pilih kak Budi aja deh, hahaha :))

hahaha.... whatever will be wil be.
Finally, Terima kasih ya sudah meluangkan waktunya buat ngobrol-ngobrol. Sukses buat kalian!

yah tak terasa, iya terima kasih kembali kak, sudah memberikan kami inspirasi hari ini.. sukses juga buat kak @budhipedia :D

Obrolan yang seru dengan @yeyecycling. Saya senang. Ada salam nih buat Mas Didit. :)) 

Asean Girl + Fixie; taken from Pinterest


25 February 2015

(Dia) kalah.



Kalah.  Hari ini dia kalah oleh sesuatu yang disebut hyperconnectivity di linimasa. Sungguh absurd beradu argumentasi karna hal ini.

Marah, memaki, mencela dan mengatakan hal yang tak sepantasnya. Kemudian saya harus merampas dan menggantinya dengan sebuah bujuk rayu dan pengertian. Bujuk rayu bukan keahlian saya, maka wajar jika ada yang berinterpretasi datar.

Penjelasan saya akan dianggap alasan dan kemudian akan menambah volume marahnya. Maka, saya lebih baik diam.

Ketika saya diam, dia (selalu) berpikir saya tak peduli. Kalau sudah begini saya bisa apa.

Ya Rabbil Izzati… Berikanlah dia pengertian. 


10 December 2014

diantara


sesama manusia membantu
tapi kita juga membuntu

sesama manusia berkasih
tapi kita juga salah menafsir kasih

sesama manusia bertemu
lalu kita saling terpaku

sesama manusia menghargai
tapi kita juga membenci

manusia adalah baik dan buruk
manusia adalah indah dan nista
manusia adalah keduanya

diantara keduanya berdirilah keyakinan

 

08 July 2014

Saya (sudah) Tidak Golput!

di ambil dari Daily Social


Setelah sebulan lebih gak nulis di sini, hari ini saya kembali lagi. Tadinya saya masih mau berhibernasi lebih panjang, tapi isi kepala ini sudah random banget, isinya sudah penuh dan luber, maka saya kembali menulis di sini. 

Sebagai seorang yang apatis sama pemerintahan dan alergi sama politik saya lebih nyaman “diam” dan memilih golput ketika pilpres. Namun melihat riuhnya media sosial menyoal pilpres 2014 kali ini membuat saya sedikit terusik.  Dan, akhirnya saya menyelami lini masa soal pilihan pilpres. 

Harus di akui memang pilpres kali ini adalah pilpres yang paling menegangkan daripada pilpres-pilpres sebelumnya. Hanya ada dua calon pasangan presiden, sehingga membuat kedua calon pasangan presiden berhadapan secara langsung, face-to-face!.

Akibatnya secara tak langsung baik di media sosial maupun di grass root terjadi pertarungan yang sengit. Tapi sayang pertarungan antar tim sukses kedua kubu pasangan calon presiden tidak berjalan positif. Banyak isu-isu negatif disebarkan, saling menjelek-jelekan, menebar terror sehingga masyarakat kita semakin akrab dengan kebiasaan kampanye negatif bahkan kampanye hitam. Bisa dibilang inilah periode terburuk sepanjang sejarah pilpres. 

Pilpres itu pesta demokrasi, sejatinya gembira. Bukan buat sebar ancaman, fitnah, dan makian.
Besok adalah kesempatan kita untuk berpartisipasi demi perubahan Indonesia yang lebih baik. Dan saya ingin menjadi bagian dari perubahan tersebut. Saya tak akan golput lagi seperti pilpres-pilpres sebelumnya. Ini bukan soal ikut-ikutan trend. Tapi setelah saya menyelami linimasa, menonton debat kedua pasang calon presiden, melihat ketokohan dan track record kedua calon pasangan akhirnya saya memutuskan untuk memilih. 

Menyoal hak pilih, saya memilih nomer dua, Jokowi.

Kenapa bukan Prabowo?

Pasangan nomer satu ini mendengungkan romantisme orde baru. Sebagai generasi 90-an saya tak ingin kembali ke masa tersebut. Jangan meminta jawaban lebih dari saya soal alasan yang satu ini, mungkin tulisan ini “Karena Nyeri ituSetiap Hari, Bukan Lima Tahun Sekali” dari Mas Zen bisa menggambarkannya.
Kenapa harus Jokowi?

Memilih Jokowi adalah pilihan logis dan mudah buat saya. Bagi saya ini adalah harapan, harapan pada satu sosok yang kinerjanya telah terbukti. Jokowi telah menjadi “model” dan menunjukan untuk memberlakukan toleransi pada umat beragama. Jokowi juga telah melahirkan generasi baru, generasi yang kreatif dan peduli terhadap politik. 

Jokowi memang tidak sempurna, tidak elegan, tidak exlusive, dan gayanya kurang presidensial, tapi rekam jejak Jokowi menunjukan ia adalah seorang administrator ulung dan efektif. Dan Indonesia butuh sosok seperti Jokowi. Sosok sederhana yang bisa mengatasi masalah Indonesia yang sangat beragam. Atas dasar inilah, saya memilih Jokowi. 

Terakhir, pilihan dan hak politik boleh berbeda tapi kita satu warna, merah dan putih. Indonesia!
Selamat memilih, selamat mencintai Indonesia. Selamanya!



To get the latest update of me and my works

>> <<